
Makkah (Trigger.id) – Malam pergantian tahun baru Hijriah di Masjidil Haram selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Di tengah keheningan yang menyelimuti Baitullah, sebuah tradisi sakral kembali dilaksanakan: pergantian kiswah, kain penutup Ka’bah yang menjadi simbol kemuliaan dan kehormatan rumah suci umat Islam.
Bagi jutaan Muslim di seluruh dunia, pergantian kiswah bukan sekadar proses mengganti kain penutup Ka’bah. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi penanda datangnya tahun baru Islam sekaligus momentum refleksi diri dan pembaruan spiritual.
Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Makkah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Erti Herlina, menilai pergantian kiswah pada 1 Muharram mengandung pesan mendalam tentang semangat baru yang lahir seiring bergantinya tahun Hijriah.
Menurutnya, pergantian kiswah menjadi simbol penyucian diri dan pembaruan spiritual bagi umat Islam. Sebagaimana kain penutup Ka’bah diperbarui, umat Islam juga diajak memperbarui niat, memperbaiki diri, serta meningkatkan kualitas ibadah dalam menyambut lembaran tahun yang baru.Namun makna pergantian kiswah tidak berhenti pada aspek spiritual. Ada pula alasan praktis yang mendasarinya. Setiap tahun, jutaan jamaah haji dan umrah datang ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf.
Dalam prosesi itu, tidak sedikit jamaah yang menyentuh atau bahkan mencium kiswah sebagai bentuk kecintaan kepada Baitullah.Interaksi yang begitu intens membuat kain penutup Ka’bah mengalami penurunan kualitas seiring waktu. Karena itu, pergantian kiswah menjadi langkah penting untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kesuciannya.Tradisi pergantian kiswah sendiri mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Dahulu, prosesi tersebut dilaksanakan setiap 9 Dzulhijjah atau malam Arafah, ketika jutaan jamaah haji sedang menjalankan wukuf di Padang Arafah.
Erti mengaku pernah menyaksikan langsung prosesi pergantian kiswah pada 2018 yang masih dilakukan pada malam Arafah. Namun sejak 2022 atau bertepatan dengan 1444 Hijriah, pemerintah Arab Saudi melalui keputusan Raja Salman menetapkan pergantian kiswah dilakukan setiap 1 Muharram.
Perubahan jadwal tersebut semakin menegaskan keterkaitan antara pergantian kiswah dan momentum pergantian tahun Hijriah, sehingga makna simboliknya menjadi lebih kuat sebagai penanda awal perjalanan spiritual umat Islam selama setahun ke depan.
Kiswah yang menyelimuti Ka’bah bukanlah kain biasa. Kain tersebut dibuat dari sutra hitam berkualitas tinggi dan dihiasi kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an yang disulam dengan benang emas serta perak. Seluruh proses pembuatannya dilakukan oleh para pengrajin terampil di Kompleks Raja Abdulaziz untuk Pembuatan Kiswah Ka’bah di Makkah.
Menjelang masuknya 1 Muharram 1448 Hijriah, tim khusus yang ditunjuk otoritas Masjidil Haram kembali bersiap menjalankan tugas penting itu. Dengan penuh kehati-hatian, mereka akan menurunkan kiswah lama dan memasang kiswah baru secara bertahap sesuai prosedur yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.
Prosesi yang berlangsung tanpa kemegahan berlebihan itu justru memancarkan pesan yang kuat: menjaga kehormatan dan kesucian Baitullah sekaligus mengingatkan umat Islam bahwa setiap pergantian waktu adalah kesempatan untuk memulai kembali dengan hati yang lebih bersih dan semangat yang lebih baik.
Seperti kiswah baru yang kembali menyelimuti Ka’bah, tahun baru Hijriah menjadi pengingat bahwa setiap Muslim selalu memiliki peluang untuk memperbarui diri, memperkuat iman, dan melangkah menuju kehidupan yang lebih bermakna. (Ian)



Tinggalkan Balasan