
Surabaya (Trigger.id) – Segar, kenyal, dan bercita rasa manis, nata de coco telah lama menjadi pelengkap favorit dalam berbagai minuman maupun hidangan penutup di Indonesia. Potongan kecil berwarna putih bening ini hampir selalu hadir dalam es buah, es campur, koktail, hingga puding. Teksturnya yang khas memberikan sensasi mengunyah yang menyenangkan, sehingga digemari oleh anak-anak hingga orang dewasa.
Di balik tampilannya yang sederhana, nata de coco menyimpan proses pembuatan yang menarik. Produk pangan ini bukan berasal dari daging kelapa, melainkan dihasilkan melalui fermentasi air kelapa. Proses tersebut memanfaatkan bakteri Acetobacter xylinum yang mengubah kandungan gula dalam air kelapa menjadi lapisan selulosa berbentuk gel. Setelah difermentasi selama beberapa hari, lapisan tersebut dipanen, dipotong-potong, dicuci berulang kali untuk menghilangkan aroma asam, kemudian dimasak bersama larutan gula agar menghasilkan cita rasa yang manis dan siap dikonsumsi.
Menurut keterangan yang dimuat di situs resmi (MUI), fermentasi air kelapa dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum menjadi tahapan utama dalam menghasilkan nata de coco. Bakteri tersebut berperan membentuk serat selulosa alami yang menjadi ciri khas tekstur kenyal pada produk ini.
Proses fermentasi menggunakan bakteri Acetobacter xylinum tidak menjadi masalah dari sisi kehalalan. Bakteri tersebut berfungsi mengubah air kelapa menjadi selulosa mikrobial yang membentuk nata de coco.
Titik kritis kehalalan justru berada pada bahan tambahan dan bahan penolong, seperti gula, enzim, karbon aktif, atau bahan pemucat. Jika bahan-bahan tersebut berasal dari sumber yang tidak halal, maka status kehalalan produk dapat terpengaruh. Karena itu, asal-usul bahan harus dipastikan memenuhi ketentuan syariat.
Selain lezat, nata de coco juga dikenal sebagai pangan yang mengandung serat pangan cukup tinggi, terutama serat tidak larut, sehingga kerap dipilih sebagai pelengkap menu yang menyegarkan. Kandungan kalorinya relatif rendah sebelum ditambahkan sirup gula, namun produk yang beredar di pasaran umumnya telah melalui proses pemanisan sehingga tetap perlu dikonsumsi secara bijak, terutama bagi mereka yang membatasi asupan gula.
Awalnya, nata de coco dikembangkan sebagai salah satu cara memanfaatkan air kelapa yang sebelumnya sering dianggap sebagai limbah industri pengolahan kelapa. Melalui proses fermentasi, bahan sederhana tersebut berubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang kini dipasarkan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke berbagai negara.
Hingga kini, nata de coco tetap menjadi pilihan favorit masyarakat. Kehadirannya yang mampu memberikan sensasi segar dan kenyal membuat makanan hasil fermentasi air kelapa ini seolah tak pernah kehilangan tempat di hati para penikmat kuliner, baik sebagai pelengkap minuman dingin di siang hari maupun hidangan penutup dalam berbagai kesempatan. (Ian)



Tinggalkan Balasan