• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Mortalitas Jemaah Haji, Antara Mindset dan Istithaah

18 Juli 2023 by admin Tinggalkan Komentar

“Barang siapa yang meninggal dalam perjalanan haji dan umrah, Allah akan membalasnya berupa pahala haji dan umrah sampai hari kiamat…… “

Ilustrasi jemaah haji wafat di tanah suci. Foto: BPKH

Oleh: dr. Ari Baskoro SpPD K-AI – Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya*

Rangkaian ibadah haji tahun 2023 telah usai. Semua jemaah haji (JH) secara bertahap kembali ke tanah air. Beberapa kendala mewarnai catatan penyelenggaraan haji kali ini yang perlu dikaji sebagai bahan evaluasi.

Data yang cukup mencolok adalah soal meningkatnya jumlah kematian JH. Angkanya sangat memprihatinkan, bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hingga hari ke-55 penyelenggaraan haji, sebanyak 652 JH  telah wafat. Data tersebut diperoleh dari Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama pada 17 Juli 2023 jam 09.45 WIB.

Walau tidak diharapkan, sangat mungkin jumlah JH yang wafat akan terus bertambah. Pasalnya, masih sekitar tiga ratusan lebihJH yang hingga kini masih dalam perawatan di rumah sakit setempat. Tingkat keparahan penyakitnya pun bervariasi. Mayoritas adalah pneumonia (radang paru) yang tergolong sebagai penyakit serius.

Berdasarkan data penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya, angka kematian JH Indonesia ada di kisaran 200-400 orang, setiap pelaksanaan haji. Jumlah tersebut identik dengan dua per mil. Itu terjadi selama 15 tahun terakhir. Perkecualian hanya terjadi pada tahun 2017. Saat itu angka mortalitas hingga hari ke-50, mencapai 529 JH dari 221 ribu yang diberangkatkan. Tahun 2015 berbeda masalah. Secara total jumlah kematian JH Indonesia saat itu,sebanyak 574 orang. Tingginya angka kematian JH, lebih dikarenakan kontribusi tragedi Mina (129 JH), dan robohnya crane  di Masjidil Haram-Makkah (12 JH).

Sebagai bahan komparasi, India dengan kuota haji terbanyak kedua setelah Indonesia, angka mortalitasnya hanya satu per mil.Tahun ini kuota haji Pakistan, sedikit melebihi India.Angka kematian JH Malaysia, malah bisa dikatakan terkendali dengan baik. Pada tahun 2022, negeri Jiran tersebut memberangkatkan 14 ribu JH. Hanya satu orang saja di antaranya yang wafat. Setiap penyelenggaraan haji, angka mortalitas JH Malaysia rata-rata hanya 0,3 per mil. Skriningnya untuk menyatakan istithaah dari sisi persiapan fisik sangat teliti. Bahkan calon jemaah haji (CJH) yang obesitas, akan sulit untuk diberangkatkan.Bodymassindex/BMI jemaahnya, menjadisalah satu poin pertimbangan penting.

Mindset jemaah haji

Tidak sedikit JH kita yang memang berkeinginan untuk ditakdirkan wafat di Tanah Suci.Dalilnya adalah Hadits Rasulullah yang diriwayatkan Al-Baihaqi. “Barang siapa yang meninggal dalam perjalanan haji dan umrah, Allah akan membalasnya berupa pahala haji dan umrah sampai hari kiamat. Dan siapa yang mati di salah satu tanah Haram, maka tidak akan dihisab”. Maka akan dikatakan kepadanya “masuklah ke surga”.

Dalam riwayat lain juga dijelaskan, bahwa orang yang meninggaldi salah satu Tanah Suci (Makkah dan Madinah), akan mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW, dan digolongkan dalam kelompok orang yang selamat. Imam Nawawi dalam kitab Al- Adzkar An-Nawawiyah juga menganjurkan, agar seseorang berharap untuk meninggal di tempat yang mulia, seperti Makkah atau Madinah.

JH yang sejak awal berkeinginan untuk wafat di Tanah Suci, cenderung tidak terlalu memedulikan kondisi fisiknya. Semangat beribadahnya sering kali mampu melebihi JH lainnya. Mereka tidak akan melewatkan waktu barang sedikit pun. Semuanya  dimanfaatkan sebaik-baiknya,untuk menjalankan sunah-sunah ibadah haji.Meski aktivitas ibadah tersebut, membuatnya merasa kelelahan. Mereka tidak akanmerasa khawatir berisikojatuh sakit, bahkan wafat. Kalaupun pada akhirnya wafat, mereka berpendapat akan masuk kategori mati syahid dengan segala keutamaannya. JH yang mempunyai mindset demikian, tidak seirama dengan upaya pemerintah untuk menekan risiko morbiditas dan mortalitasnya.

Istithaah haji

Negara menjamin kemerdekaan beribadah. Dalam penyelenggaraan haji, negara harus memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan, bagi warga negara yang menunaikan ibadah haji. Upaya tersebut harus dilaksanakan secara aman, nyaman, tertib, dan sesuai dengan syariat. Ketentuan itu termaktub dalam Undang-Undang No.8 tahun 2019,

Selain memiliki bekal finansial yang cukup, JHjuga harus memenuhi syaratistithaah dari sisi kesehatan. Tahun ini Indonesia mendapatkan kuota haji secara penuh. Jumlahnya mencapai 229 ribu orang, termasuk delapan ribu kuota tambahan. Dari jumlah total JH tersebut, sebanyak 67 ribu (30 persen) di antaranya merupakan JH lansia.

Di sisi lain, tantangan penyelenggaraan haji dari tahun ke tahun, adalah banyaknya JH (63-67 persen) dengan kategori risiko tinggi (Risti). Tahun ini yang tergolong Risti bahkan mencapai 73 persen. Situasi tersebut memerlukan mitigasi, guna menghindari risiko morbiditas dan mortalitas JH.

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 15 tahun 2016, menjadi instrumen penting penentuan istithaah kesehatan JH. Menurut Permenkes tersebut, istithaah mempunyai makna kemampuan JH secara jasmaniah, rohaniah, pembekalan, dan keamanan, untuk menunaikan ibadah haji. Ketentuan itu juga harus disertai syarat, tanpa menelantarkan kewajiban terhadap keluarganya.

Istithaah kesehatan haji, terutama difokuskan pada JH lansia danyang berkategori Risti.Misalnya yang memiliki berbagai kondisi penyakit/komorbid. Itu diperlukan guna persiapan menghadapi situasi geografi Arab Saudiyang “kurang ramah” dari sisi kesehatan, saat mereka beribadah di Tanah Suci. Suhu ekstrem dan kepadatan massa,  patut diperhitungkan. Bertepatan dengan puncak ibadah haji, tercatat suhu lingkungan mencapai 48 derajat Celsius. Itu terjadi pada tanggal 29 Juni 2023. Saat wukuf di padang Arafah, kepadatan bisa mencapai 1,8 meter/orang dan di Mina 0,8 meter/orang. Situasi itu membuat JH “sulit bergerak” yang bisa berdampak buruk,terutama bagi jemaah lansia dan Risti.

“Periode kritis” seharusnya juga mendapatkan perhatian penting. Dari tahun ke tahun, wafatnya JH terutama terjadi pada H-5 (Arafah) sampai hari tasyrik (H+7). Kelelahan menjadi faktor pemicu utama, khususnya terhadap terjadinya serangan jantung. Tahun ini grafik angka kematian JH meningkat signifikan, pasca fase puncak haji di Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna).

Beberapa jenis penyakit yang dimiliki oleh JH, bisa bersifat dinamis. Misalnya, dalam kondisi aktivitas minimal dan pengobatan yang optimal, bisa memenuhi persyaratan istithaah. Tetapi bila mengalami kelelahan saat menjalankan aktivitas ibadah hajinya, penyakit tersebut  berisiko akan mengalami pemburukan. Terlebih bila mereka ”lupa”/lalai dalam mengonsumsi obat. Seyogianya mereka dikategorikan sebagai jemaah yang memenuhi syarat istithaah, tapi dengan pendampingan.Kriteria pendampingan bisa berarti adanya orang yang bisa mengantar (biasanya keluarga). Pendamping ini juga bertanggung jawab atas obat-obatan yang harus rutin dikonsumsi, selain penyertaan peralatan medis tertentu.KategoriJHRisti yang memerlukan pendampingan seperti inilah yang menempati porsi terbanyak.

Penyelenggaraan haji 2023 yang mengusung tema “haji ramah lansia”, memberikan tanggung jawab pendampingan pada petugas haji. Meski demikian,sangat mungkin itu tidak akan efektif. Setiap JH lansia atau Risti, memiliki problem spesifik. Terutama bagi jemaah yang mengalami demensia (“pikun”).

Penutup

Masih ada sejumlah faktor lainnya yang berperan serta dalam memantik peningkatan morbiditasJH tahun 2023.Semuanya memerlukan evaluasi untuk perbaikan. Sudah tepat kiranya, bila Komisi VIII DPR RI akan membahasnya melalui panitia kerja (Panja).

Mengubah mindset JH, bukanlah perkara yang mudah.Sebaiknya diadakan penelitian untuk menjawab hipotesis yang mengaitkan latar belakang mindset dengan morbiditas dan mortalitas JH.  Di sisi lain diperlukan komitmen yang serius dari pengambil kebijakan lintas sektoral, agar mitigasi JH dapat berjalan secara maksimal.

*Penulis buku:

  • Serial Kajian COVID-19 (sebanyak tiga seri)
  • Serba-serbi Obrolan Medis
Share This :

Ditempatkan di bawah: jatim, Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:Antara Mindset dan Istithaah, Ari Baskoro, Mortalitas Jemaah Haji

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

SR-025 Resmi Ditawarkan, Return 6,9% Jadi Pilihan Investasi Aman

21 Agustus 2026 By admin

Dana DP Haji 2027 Diblokir Saudi, Kemenhaj Tempuh Jalur Diplomatik

21 Agustus 2026 By admin

Purbaya Siapkan Rp 31 Triliun Buat PPPK Guru

21 Agustus 2026 By admin

Tavares Perketat Persiapan Persebaya

20 Agustus 2026 By admin

MagangHub 2026 Batch 2 Dibuka September

20 Agustus 2026 By admin

Guru PPPK Akan Beralih Pegawai Pusat

19 Agustus 2026 By admin

Calvin Verdonk, Pemain Indonesia Tampil di Liga Champions

18 Agustus 2026 By admin

Zidane, Islam, dan Timnas Prancis: Ketika Agama Tak Seharusnya Jadi Ukuran

18 Agustus 2026 By admin

Kereta Garuda Prabayaksa Antar Bendera Pusaka ke Istana Merdeka

17 Agustus 2026 By admin

Hobi Memasak Bisa Menjaga Kesehatan Mental

17 Agustus 2026 By admin

Melepas Tukik Lekang di Pantai Banyuwangi

16 Agustus 2026 By admin

500 Pendaki Kibarkan Merah Putih 81 Meter di Puncak Arjuno

16 Agustus 2026 By admin

Pasca Gempa M7,7 Flores, Warga Diimbau Jauhi Pantai

15 Agustus 2026 By admin

Parkir QRIS Surabaya Cukup Rp 810, Berlaku 15–16 Agustus

15 Agustus 2026 By admin

Prabowo : Gaji Hakim Junior Sudah Naik 280 Persen, Tertinggi ASEAN

14 Agustus 2026 By admin

Pramuka Jatim Didorong Jadi Penggerak Swasembada Pangan

14 Agustus 2026 By admin

Maskapai Indonesia Mulai Gunakan AI Layani Penumpang

14 Agustus 2026 By admin

Api Mendekat, Seruni Point Bromo Ditutup Sementara

13 Agustus 2026 By admin

Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi?

13 Agustus 2026 By admin

MBG Wajib Dikonsumsi Maksimal 4 Jam Setelah Matang

12 Agustus 2026 By admin

Rp 81 Tarif Trans Jatim, 11-17 Agustus 2026

12 Agustus 2026 By admin

Jelang Muktamar NU, Gus Ipul Ikut Nata Kasur Muktamirin

10 Agustus 2026 By admin

Bromo Ditutup Total, Api Meluas

10 Agustus 2026 By admin

Rihlah Yanmu Sowan ke Bahrul Ulum Jombang, Wakafkan Dua Ambulans dan Seribu Al-Quran

7 Agustus 2026 By zam

UWKS Perkuat Budaya Literasi melalui Seminar Nasional dan Peluncuran Buku Kredo Kewijayakusumaan

29 Juli 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
« Jul    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Replika Unta, Magnet Pawai Maulid Kampung Nelayan
  • Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp, Dorong Kemandirian Energi
  • Dari Sudan ke Cikoang: Ketika Cinta kepada Nabi Dihias di Atas Perahu
  • Menghidupkan Keteladanan Rasulullah di Tengah Perubahan Zaman
  • Kabupaten Malang Krisis Air Bersih, BNPB Salurkan 363.800 Liter

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.