• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Tantangan Menyelaraskan Dikotomi Obat Herbal dan Konvensional

3 Agustus 2023 by admin Tinggalkan Komentar

Foto: guyanachronicle

Oleh : dr. Ari Baskoro SpPD (K) * – Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo– Surabaya

Disahkannya Undang-undang Kesehatan pada tanggal 11 Juli 2023,mengandung konsekuensi dihapuskannya mandatory spending. Dengan sendirinya belanja negara yang sebelumnya  diatur dalam pasal 171Undang-UndangNomor 36  tahun 2009 tentang kesehatan sudah  tidak berlaku lagi.

Besaran belanja wajib tersebut, mencakup proporsi anggaranl ima persen dari APBN dan sepuluh persen dari APBD, di luar gaji. Dampak penghapusan itu, dikhawatirkan akan memengaruhi pencapaian target program strategis kesehatan. Salah satunya adalah menurunnya kualitas pelayanan kesehatan, dengan alasan adanya keterbatasan anggaran.

Efisiensi belanja obat-obatan, menjadi salah satu kata kunci prioritas penghematan anggaran kesehatan. Selain alat-alat kesehatan, Indonesia masih sangat bergantung pada luar negeri untuk pemenuhan obat-obatan. Tidak mengherankan, harga obat-obatan di dalam negeri  disebut-sebut termahal di kawasan Asia Tenggara. Itu terkait dengan bahan bakunya yang sekitar 90-95 persen masih harus diimpor. Nilai impor total produk obat dan farmasi Indonesia, mencapai 1,877,735.314 USD pada tahun 2022.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran untuk pembelian obat per kapitamasyarakat Indonesia tahun 2022, sebesar Rp 4.044 per bulan. Besaran biaya tersebut, merupakan 12,57 persen dari proporsi total pengeluaran biaya kesehatan. Bila diperinci, sebanyak 45,22 persen digunakan untuk pembelian obat tanpa melalui resep dokter. Di sisi lain,hanya sebesar 36,32 persen yang dibeli dengan resep dokter. Anggaran pembelian untuk obat tradisional/jamu proporsinya mencapai 14,15 persen.

Kemandirian obat-obatan

Kemandirian Indonesia dalam bidang kefarmasian, dapat didorong melalui pemenuhan bahan baku dan obat-obatan melalui riset yang terus digalakkan. Melalui Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBO-OT), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diharapkan banyak mengambil peran. Banyak gagasan terkait pengembangan bahan-bahan baku obat tradisional yang perlu diimplementasikan. Riset saintifikasi jamu dan standarisasi bahan baku obat tradisional, merupakan salah satu alternatif solusi pengobatan penyakit yang ada di Indonesia.

Beberapa negara di dunia, menggunakan obat tradisional herbal sebagai tulang punggung sistem pelayanan kesehatannya.Itu terutama terjadi di negara-negara berkembang dengan pendapatan rendah hingga sedang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),sebanyak 80 persen masyarakat Afrika menggunakannya. Ada pula beberapa negara maju yang juga memanfaatkannya. Sebut saja Tiongkok denganTraditional Chinese Medicine (TCM)-nya. Demikian pula Jepang, Perancis, Inggris, Kanada dan bahkan Amerika Serikat.  India terkenal dengan ayurvedanya. Di belahan benua Amerika, sebagian penduduk Chile dan Kolumbia, sangat familier dengan obat tradisional herbal.

Kemajuan teknologi dan pengobatan modern tidak serta merta menghapuskan peran pengobatan herbal. Faktanya industri obat-obat herbal terus berkembang. Diperkirakan industri tersebut menghasilkan pendapatan kotor sekitar $60 miliar per tahun. Alasannya cukup sederhana.

Lebih mudah diakses dan dengan biaya yang relatif lebih terjangkau, dibanding pengobatan konvensional. Penggunaannya juga sejalan dengan mindset mereka.

Testimonybased menuju evidencebasedmedicine

Negara kita dianugerahi Sang Pencipta kekayaan tanaman herbal yang beraneka ragam.Tetapi tidak semuanya “berkhasiat”. Saat ini ada beberapa obat herbal yang paling banyak dikenal dan paling populer penggunaannya. Contohnya adalah Ginseng, Elderberry, Ginkgobiloba, Valerian, Echinacea, Kamomil dan St John’swort.

Ginseng misalnya. Bahan berkhasiatnya yang disebut ginsenosides berasal dari akar suatu tanaman. Biasanya dikeringkan untuk dibuat bubuk atau semacam teh. Di Tiongkok, digunakan sebagai anti peradangan dan memperkuat imunitas, fungsi otak, serta meningkatkan energi.Di dalam negeri, kunyit dan jahe, sangat familier sebagai bahan herbal terkemuka. Pada saat awal pandemi, keduanya sempat melejit penggunaannya sebagai pencegah paparan Covid-19.

Kunyit (Curcumalonga) mungkin memiliki manfaat yang tidak jauh berbeda. Tidak hanya sebagai bumbu masak, kunyit telah lama dikenal sebagai herbal berkhasiat di tanah air. Curcumin sebagai senyawa aktifnya, diklaim dapat digunakan untuk melawan peradangan kronis, anti nyeri, sindrom metabolik, dan mengurangi kecemasan. Suplemen yang mengandung Curcumin, secara luas dianggap aman. Walau demikian, dalam dosis tinggi dapat mengakibatkan diare, sakit kepala, atau iritasi kulit.

Sama halnya dengan kunyit, jahe adalah sejenis tanaman rimpang atau batang yang tumbuh di bawah tanah. Senyawa yang dikandungnya diklaim sebagai obat pilek, mual ( terutama yang terkait dengan kehamilan), migrain, dan tekanan darah tinggi. Beberapa riset secara laboratoris (invitro), dikatakan dapat menghambat pembekuan darah. Meski demikian, penerapannya pada manusia belum memiliki bukti ilmiah yang sahih.

Karena berasal dari sumber alam, banyak yang mengasumsikannyapasti aman biladigunakan. Padahal itu tidak seluruhnya benar. Seperti juga obat konvensional, obat herbal dapat memicu reaksi alergi atau efek samping yang serius. Dapat pula menimbulkan interaksi dengan obat-obatan konvensional.

Misalnya St.John’swort, dapat berbahaya bila digunakan bersama dengan obat antidepresan. Sebaliknya valerian, dapat meningkatkan efek obatpenenang.Demikian pula dengan aspirin, bila digunakan bersamaan dengan ginkgobiloba. Dampaknya dapatmemantikrisikoterjadinya perdarahan.  Mayoritas obat-obat herbal belum memiliki data keamanan yang sahih, bila digunakan pada perempuan hamil dan menyusui.

Saat era pelayanan kesehatan berbasiskan bukti-bukti yang sahih (evidence based medicine/EBM), obat-obat  herbal selayaknya juga mengikuti kaidah ilmiah tersebut. Tidak cukup hanya mengandalkan testimoni ataupun iklan semata. Publikasinya pun sering kali bias. Riset ilmiah yang dipublikasikannya, umumnya hanya disimpulkan sebagai : “belum ada cukup bukti”, “sampelnya terlalu kecil”, atau “metodologinya yang lemah”. Hal itu bisa “dimaklumi”, karena kesimpulan risetnya hanya didasarkan pada data laboratorium (invitro) atau pada hewan coba saja. Masalahnya belum tentu hasil positif keduanya bisa bermanfaat/sesuai, bila diterapkan pada manusia. Untuk dapat memenuhi kriteria EBM, tentunya membutuhkan dana yang sangat besar dan waktu yang panjang. Di sisi lain, mayoritas masyarakat kita  masih memiliki literasi yang serba terbatas,untuk bisa memahami semua aspek tersebut.

Obat konvensional berbasis fitofarmaka

Beberapa obat yang saat ini digunakan untuk keperluan medis, bersumber dari tanaman (phyto artinya tanaman dan pharmakon artinya obat). Hal itu telah melalui riset yang sahih, berdasarkan EBM. Contoh yang paling terkenal adalah opium. Golongan opiat ini, seperti juga morfin dan kodein, diekstraksi dari tanaman poppy yang memiliki efek yang kuat pada susunan saraf pusat. Pemanfaatan medis  utamanya adalah sebagai penahan rasa sakit.

Contoh lainnya adalah kacang babi (Mucunapruriens). Senyawa berkhasiat yang dikandungnya disebutlevodopa. Hingga kini senyawa tersebut menjadi komponen penting untuk meredam tremor pada pasien parkinson.

Ada pula senyawa yang diekstrak dari kulit batang pohon Pacific yew (Taxusbrevifolia). Komponen aktifnya adalahtakse.Saat ini digunakan sebagai obat anti kanker dengan nama Paclitaxel.

Aspirin yang selama ini kita kenal sebagai komponenobat anti radang, nyeri dan demam, berasal dari salisin yang diekstrak dari kulit batang pohon gandarusa (willow). Aspirin juga dikenal luas bermanfaat untuk mencegah terjadinya bekuan darah, pada stroke dan penyakit jantung koroner.             Perlu diimplementasikan Instruksi Presiden No.6 tahun 2016, tentang percepatan pengembangan industri farmasi. Tujuannya untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing. Hal itu seyogianyamesti dipahami dan dijalankanoleh semua pihak.

*Penulis buku:

  • Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
  • Serba-serbi Obrolan Medis
Share This :

Ditempatkan di bawah: jatim, Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:Obat Herbal, Obat Herbal dan Konvensional, Obat Konvensional, Tantangan Menyelaraskan Dikotomi

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi?

13 Agustus 2026 By admin

MBG Wajib Dikonsumsi Maksimal 4 Jam Setelah Matang

12 Agustus 2026 By admin

Rp 81 Tarif Trans Jatim, 11-17 Agustus 2026

12 Agustus 2026 By admin

Jelang Muktamar NU, Gus Ipul Ikut Nata Kasur Muktamirin

10 Agustus 2026 By admin

Bromo Ditutup Total, Api Meluas

10 Agustus 2026 By admin

Rihlah Yanmu Sowan ke Bahrul Ulum Jombang, Wakafkan Dua Ambulans dan Seribu Al-Quran

7 Agustus 2026 By zam

UWKS Perkuat Budaya Literasi melalui Seminar Nasional dan Peluncuran Buku Kredo Kewijayakusumaan

29 Juli 2026 By admin

Khofifah: Data BPS Jadi Fondasi Pembangunan Presisi dan Kebijakan Tepat Sasaran

29 Juli 2026 By isa

MUI Ingatkan AI Tak Boleh Mengikis Tradisi Sanad Keilmuan Islam

29 Juli 2026 By admin

Survei: Mayoritas Warga AS Berpandangan Negatif terhadap Netanyahu

29 Juli 2026 By wah

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Program MBG Turun Tajam

29 Juli 2026 By zam

Luka di Ujung Perjalanan: Messi Menutup Piala Dunia 2026 dengan Air Mata

21 Juli 2026 By zam

Kemendikdasmen Siapkan Rekrutmen Guru PNS Pusat untuk Sekolah Nasional Terintegrasi

21 Juli 2026 By wah

Spanyol Ukir Rekor Tak Terkalahkan Usai Juara Piala Dunia 2026

20 Juli 2026 By zam

IRGC: Dua Tanker Meledak di Hormuz

20 Juli 2026 By wah

Transaksi KDMP Jatim Tertinggi Secara Nasional, Tembus Rp21,64 Miliar

18 Juli 2026 By wah

Jatim Perkuat Posisi sebagai Penopang Ketahanan Pangan Nasional

18 Juli 2026 By zam

Prancis Lebih Termotivasi Hadapi Inggris demi Golden Boot Mbappe

18 Juli 2026 By admin

Inter Milan Bidik Djed Spence Gantikan Dumfries

17 Juli 2026 By zam

Sedekah: Investasi Abadi yang Tak Pernah Merugi

17 Juli 2026 By zam

Belajar ADEM di Jawa Timur, Mengabdi untuk Papua

12 Juli 2026 By admin

Festival Muharram LAZIS Nurul Falah Asah Hafalan dan Kreativitas Ratusan Santri

12 Juli 2026 By wah

Jatim Siap Perkuat Rantai Pasok Biodiesel B50, Khofifah Dukung Transformasi Energi Nasional

11 Juli 2026 By zam

De La Fuente Optimistis Spanyol Mampu Singkirkan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2026

11 Juli 2026 By wah

Ariana Grande Mundur dari American Horror Story 13, Tur Dunia Jadi Prioritas

11 Juli 2026 By zam

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
« Jul    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Calvin Verdonk, Pemain Indonesia Tampil di Liga Champions
  • Zidane, Islam, dan Timnas Prancis: Ketika Agama Tak Seharusnya Jadi Ukuran
  • Kereta Garuda Prabayaksa Antar Bendera Pusaka ke Istana Merdeka
  • Hobi Memasak Bisa Menjaga Kesehatan Mental
  • Melepas Tukik Lekang di Pantai Banyuwangi

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.