
Kebiasaan menikmati kopi atau teh saat sahur dan berbuka puasa kerap menjadi rutinitas banyak orang di bulan Ramadan.Foto/ist
Bogor (Trigger.id) – Bulan Ramadan identik dengan perubahan pola makan dan minum. Selain penyesuaian waktu makan, kebiasaan menikmati kopi atau teh saat sahur dan berbuka juga kerap menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Namun, para ahli mengingatkan agar konsumsi minuman berkafein tersebut tetap disikapi secara bijak demi menjaga kondisi tubuh selama berpuasa.
Guru Besar bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, menjelaskan bahwa kopi memiliki sifat diuretik, yaitu merangsang ginjal untuk mengeluarkan lebih banyak urine. Efek ini membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat.
“Kopi itu bersifat diuretik sehingga orang yang minum kopi akan lebih banyak mengeluarkan cairan lewat urine. Teh juga mengandung kafein, tetapi umumnya tidak setinggi kopi sehingga efek diuretiknya tidak sekuat kopi,” ujar Ali.
Menurutnya, dalam kondisi berpuasa di mana asupan cairan terbatas hanya saat sahur dan berbuka, peningkatan frekuensi buang air kecil dapat meningkatkan risiko dehidrasi. Dampaknya bisa berupa tubuh terasa lebih lemas, pusing, hingga sulit berkonsentrasi, terutama pada siang hari.
Risiko Gangguan Tidur dan Asupan Gula Berlebih
Selain risiko kekurangan cairan, kafein juga memiliki efek stimulan yang dapat membuat seseorang tetap terjaga. Konsumsi kopi atau teh setelah berbuka, terutama pada malam hari, berpotensi mengganggu kualitas tidur.
Dokter spesialis gizi klinik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Andi Kurniawan, Sp.GK, yang juga staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menambahkan bahwa gangguan tidur selama Ramadan dapat berdampak pada kebugaran tubuh secara keseluruhan.
“Jika waktu tidur berkurang karena efek kafein, tubuh tidak mendapatkan pemulihan yang optimal. Dalam jangka pendek mungkin hanya terasa mengantuk, tetapi dalam beberapa hari bisa memengaruhi konsentrasi, produktivitas, bahkan daya tahan tubuh,” jelasnya.
Ia menyarankan agar konsumsi minuman berkafein dibatasi, terutama menjelang waktu tidur. Bila tetap ingin mengonsumsi kopi atau teh, sebaiknya dilakukan setelah berbuka dalam jumlah kecil dan tidak terlalu malam.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah tambahan gula. Kebiasaan menambahkan gula dalam jumlah cukup banyak pada kopi atau teh saat berbuka dapat meningkatkan asupan gula harian secara signifikan. Jika tidak dikontrol, hal ini berisiko memicu lonjakan kadar gula darah, terutama pada individu dengan pradiabetes atau diabetes.
Campuran Susu Bukan Solusi Menghilangkan Efek Kafein
Terkait kebiasaan mencampur susu ke dalam kopi atau teh, Ali Khomsan menilai praktik tersebut tidak serta-merta menurunkan nilai gizi susu. Namun, dalam minuman berkafein, kandungan gizi susu menjadi tidak dominan dan lebih berfungsi untuk memperbaiki cita rasa.
“Susu tetap memiliki kandungan protein dan kalsium. Tetapi ketika dicampur dalam kopi atau teh, tujuan utamanya biasanya untuk menyeimbangkan rasa pahit, bukan untuk mendapatkan manfaat gizi secara optimal,” ujarnya.
Para ahli sepakat bahwa konsumsi kopi dan teh selama Ramadan tidak sepenuhnya dilarang. Namun, kuncinya terletak pada jumlah dan waktu konsumsi. Memastikan kebutuhan cairan terpenuhi dengan air putih, membatasi gula tambahan, serta menjaga kualitas tidur menjadi langkah penting agar ibadah puasa tetap berjalan lancar tanpa mengorbankan kesehatan.(kai)



Tinggalkan Balasan