
Jakarta (Trigger.id) – Langkah Indonesia mencalonkan diri sebagai anggota komite warisan budaya takbenda UNESCO periode 2026–2030 bukan sekadar agenda formal diplomasi. Ini adalah pernyataan arah: bahwa Indonesia siap menjadi pemain utama dalam menentukan masa depan kebudayaan dunia.
Di forum internasional, budaya bukan lagi hanya identitas—ia telah menjadi instrumen kekuatan lunak (soft power). Negara yang mampu merawat, mempresentasikan, dan memperjuangkan budayanya akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam percaturan global.
Melalui visi Living Heritage, Shared Future, Indonesia menawarkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga keberlanjutan. Bahwa budaya tidak cukup dijaga di museum, melainkan harus hidup di tengah masyarakat yang menjadi pemiliknya.
Penampilan Tari Pendet dan Gamelan dalam forum tersebut bukan sekadar pertunjukan seni. Ia adalah pesan simbolik: bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang bukan hanya indah, tetapi juga diakui dunia dan relevan lintas zaman.
Yang menarik, Indonesia juga mendorong pendekatan berbasis komunitas. Ini adalah poin penting. Selama ini, banyak upaya pelestarian budaya terjebak pada seremoni tanpa substansi. Padahal, budaya akan tetap hidup jika masyarakatnya terlibat, merasa memiliki, dan mendapatkan manfaat nyata.
Usulan pembentukan pusat regional pelestarian budaya di kawasan Asia-Pasifik juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya ingin diakui, tetapi ingin berkontribusi. Ini adalah lompatan dari sekadar “penjaga warisan” menjadi “penggerak peradaban budaya”.
Pandangan para ahli bahwa langkah ini strategis patut menjadi refleksi bersama. Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa, tetapi seringkali kurang optimal dalam pengelolaan dan diplomasi. Kesempatan ini bisa menjadi titik balik.
Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan: pengakuan global harus sejalan dengan perawatan lokal. Jangan sampai budaya kita dihargai dunia, tetapi dilupakan oleh generasinya sendiri.
Jika Indonesia berhasil masuk dalam komite tersebut, maka tanggung jawabnya jauh lebih besar: bukan hanya menjaga budaya sendiri, tetapi ikut menentukan arah pelestarian budaya dunia.
Karena pada akhirnya, budaya bukan hanya tentang masa lalu—
tetapi tentang bagaimana sebuah bangsa menyiapkan masa depannya melalui identitas yang ia jaga. Budaya adalah jati diri. Diplomasi adalah jalannya. (war)



Tinggalkan Balasan