• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Kontroversi Di Balik Penyakit “Alergi Biasa” Jokowi

14 Juli 2025 by admin Tinggalkan Komentar

Ilustrasi penyandang “Stevens-Johnson Syndrome”. Foto: healthcare.uiowa.edu
Oleh: Ari Baskoro*

“Dok, penyakit alergi biasa itu seperti apa ya” ? Secara refleks pikiran saya langsung tertuju pada penyakit yang saat ini dialami Jokowi, Presiden RI ke-7. Karena tidak segera menjawab, pertanyaan berikutnya segera menyusul. “Dok, apa sih Sindrom Stevens-Johnson” (SSJ) itu ? Apa pula dengan vitiligo atau penyakit autoimun ? Saya masih juga tercekat. Meski sebagai konsultan Alergi-Imunologi, tidak mudah bagi saya untuk menjawabnya. Jika terkait aspek teori ilmiahnya, itu sudah menjadi bagian dari kewajiban profesi saya sehari-hari. Tetapi menyangkut mantan orang nomor satu di Indonesia, tentu bukan kapasitas saya untuk menjelaskannya. Mestinya itu merupakan wewenang dokter yang merawatnya. Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), begitulah sebutannya. Bisa pula didelegasikan pada seorang juru bicara yang telah diizinkan dan dipercaya keluarga Jokowi, untuk menjelaskannya ke publik. Lalu, bagaimanakah peran dokter Kepresidenan ? Meski tidak lagi menjabat, beliau dan keluarga intinya masih berhak atas fasilitas negara berupa pelayanan medis. Aturannya berdasarkan Perpres No.18 Tahun 2018, tentang Dokter Kepresidenan. 

Hak privasi

Bisa jadi pertanyaan seseorang yang mengaku sebagai jurnalis tadi, mewakili sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak salah jika publik ingin tahu. Di era keterbukaan, beragam informasi amat berharga bagi masyarakat. Meski demikian, ada batasan tertentu atau perkecualian. Informasi yang bersifat pribadi (misalnya data pribadi, termasuk kesehatan), adalah salah satu di antaranya. Dasarnya adalah Undang-Undang No. 14 Tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). 

Data kesehatan seseorang, tergolong dalam hak privasi. Sebab bersifat pribadi dan “sangat sensitif”. Implementasinya harus memerlukan perlindungan khusus. Hak privasi kesehatan mencakup pengumpulan, penggunaan, dan pengungkapannya. Demikian pula menyangkut dokter yang merawatnya. Sosok yang dikenal dengan jas putih itu, berkewajiban menjaga kerahasiaan informasi medis pasien. Perkecualian tetap ada, terhadap hal-hal yang khusus. Data medis dapat dibuka untuk kepentingan pasien sendiri. Misalnya terkait pembiayaan asuransi. Bisa juga karena “pro justitia”, guna kepentingan penegakan hukumnya. Perlindungan hukumnya didasarkan atas Undang-Undang No.27 Tahun 2022. Isinya mengatur perlindungan data kesehatan dan memberikan sanksi bagi pelanggaran privasi datanya. 

Paradigma hak privasi yang terjadi pada Jokowi, mungkin berbeda dengan saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sakit. Pada tahun 2021 silam, Presiden ke-6 tersebut menyatakan mengidap kanker prostat. Informasinya dilakukan secara terbuka oleh staf pribadinya ataupun oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg). Dokter Kepresidenan pun, terlibat langsung sejak awal hingga proses penyembuhan. Meski akhirnya menjalani operasi di Mayo Clinic- Amerika Serikat, semua biaya ditanggung negara sesuai peraturan yang berlaku. Pun demikian dengan mantan ibu negara, Ani Yudhoyono. Beliau wafat, akibat kanker darah yang diidapnya sejak beberapa waktu lamanya. Meski harus dirawat hingga berpulang tanggal 1-6-2019 di National University Hospital-Singapura, semua hak pembiayaannya tetap ditanggung negara. Liputannya bersifat terbuka, sehingga seluruh publik tanah air dapat mengikuti tahap demi tahap perkembangannya. Dokter Kepresidenan pun, terlibat dalam perawatan sejak awal hingga akhir hayat beliau.  

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Berbeda dengan di Indonesia, data medis Pemimpin Amerika Serikat jika dibuka berpotensi menjadi komoditas politik. Informasi kesehatan para Presiden Negara Paman Sam, kerap kali justru dirahasiakan. Kebohongan publik sudah menjadi bagian dari intrik politik sang pemimpin atau staf/orang dekatnya. Termasuk juga dokter-dokter yang merawatnya. Contohnya saat Donald Trump terpapar Covid-19 pada awal Oktober 2020. Presiden kontroversial itu awalnya menganggap remeh virus corona. Ketika pengenaan masker diwajibkan, sang Presiden justru tidak memedulikannya. Bahkan sering meledek Joe Biden, lawan politiknya yang disiplin memakai masker. Akhirnya saat harus dirawat intensif akibat penyakit pandemi itu, kebohongan publik tidak dapat ditutup-tutupinya lagi.   

SSJ 

Mayoritas SSJ timbul akibat reaksi adversi terhadap obat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), reaksi adversi obat (adverse drug reaction/ADR), terjadi tanpa suatu kesengajaan. Bisa menimpa pada siapa pun juga, tanpa terkecuali. Tidak pula dapat diprediksi. Manifestasi klinisnya bisa sangat berbahaya. Bahkan berisiko fatal dan mengancam jiwa. Kulit yang melepuh seperti mengalami luka bakar, adalah gambaran klinis yang khas. 

Berbagai unsur dalam obat, akan mengalami biotransformasi menghasilkan efek terapi. Struktur kimiawinya juga berubah, menjadi bentuk metabolit yang lebih mudah dieliminasi. Prosesnya melibatkan berbagai enzim (terutama di lever). Pada kasus yang amat jarang terjadi, beberapa metabolit obat berikatan dengan sel-sel kulit. Persenyawaannya berubah menjadi antigen/alergen. Tak pelak, sistem imun akan meresponsnya sebagai “lawan” yang harus disingkirkannya. Singkatnya, pola mekanismenya sangat mirip dengan penyakit alergi atau autoimun. Seperti juga luka bakar, semakin luas permukaan tubuh yang terlibat, semakin buruk pula prognosisnya. 

Saat stadium penyembuhan, lesi SSJ bisa meninggalkan bekas perubahan warna kulit. Bisa berwarna putih, mirip vitiligo. Bisa pula merah muda, coklat, kemerahan, atau keunguan. Hal itu sebagai akibat kulit tidak memiliki pigmen melanin seperti semula.

—–o—–

*Penulis:

  • Staf pengajar senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
  • Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
  • Penulis buku:
    – Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
    – Serba-serbi Obrolan Medis
    – Catatan Harian Seorang Dokter
Share This :

Ditempatkan di bawah: Kesehatan, update Ditag dengan:Di Balik Penyakit, jokowi, Kontroversi, Penyakit Alergi Biasa Jokowi, Stevens-Johnson Syndrome

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Kewajiban Sertifikasi Halal Produk Mundur Tahun 2028

20 Oktober 2026 By admin

Benahi Rumah Potong Unggas, Perkuat Jaminan Halal dan Higienis

20 Oktober 2026 By admin

UM dan UNESA Berebut Takhta Futsal Campus League 2026

19 Oktober 2026 By admin

Garden Fest Menikmati Persawahan Sore Hari

19 Oktober 2026 By admin

350 Atlet Selam Adu Cepat di SRC

19 Oktober 2026 By admin

Pasokan BBM Malang Raya Ditambah 120 %, Warga Jangan Panic Buying

18 Oktober 2026 By admin

Stok Pertalite Turun Jadi 16-18 Hari Pasca Harga Pertamax Naik

17 Oktober 2026 By admin

PM2.5 Picu Kualitas Udara Surabaya Memburuk, Warga Diimbau Waspada

16 Oktober 2026 By admin

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, IHSG Anjlok hingga 8 Persen

16 Oktober 2026 By admin

Prof Masdar Hilmy Resmi Pimpin UINSA

15 Oktober 2026 By admin

Benahi Permukiman Ala Singapura Menuju Kota Surabaya 2045

15 Oktober 2026 By admin

Cegah Campak Sejak Dini Perlu Edukasi dan Imunisasi MR

14 Oktober 2026 By admin

Barcelona Puncaki Klasemen Liga Champions 2026/2027, Arsenal Tempel Ketat

14 Oktober 2026 By admin

Surabaya Siapkan Website Porprov, Atlet Bisa Cek Hotel hingga Kuliner

13 Oktober 2026 By admin

Gandrung Sewu Spektakuler, Libatkan 1.300 Penari Malam Hari

13 Oktober 2026 By admin

Penerbangan Soetta ke Jeddah dan Madinah Masih Normal

12 Oktober 2026 By admin

Mulai 12 Oktober 2026, KAI Daop 8 Surabaya Naikkan Tarif Khusus

12 Oktober 2026 By admin

Surabaya Petakan Venue Cabor Jelang Tuan Rumah Porprov 2027

11 Oktober 2026 By admin

Prof Inung : Jangan Asal Kuliah UIN, Santri Harus Kuasai Teknologi

11 Oktober 2026 By admin

Kajian Ahad Dhuha Forsikom: Sembilan Obat Malas

11 Oktober 2026 By admin

500 Undangan HUT ke-81 Jatim Ludes 31 Detik

10 Oktober 2026 By admin

TKD Tembus Rp 599,2 T Sampai September, Stimulus Daerah Diperkuat

10 Oktober 2026 By admin

Veda Pratama Ikut Kualifikasi Moto3 Mandalika

9 Oktober 2026 By admin

Cium Bau Gas LPG ? Jangan Nyalakan Sakelar, Ini Langkah Aman Mengatasinya

9 Oktober 2026 By admin

Biaya Haji 2027 Turun Rp 3,4 Juta, Pelunasan Jemaah Jadi Rp 23 Juta

8 Oktober 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Indonesia Delapan Besar Asian Para Games 2026, Boccia Jadi Lumbung Emas
  • Petenis Tanah Air Janice Tjen dan Storm Hunter Juara Ganda Putri Japan Open 2026
  • Cuaca Panas 38 Derajat, Pakar Unair : Kendalikan Emosi
  • Diskominfo Tabalong Studi Banding ke PWI Jatim Pelajari Penguatan Pers
  • Akses Penanjakan Bromo Dibuka Usai Kebakaran

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.