
Surabaya (Trigger.id) – Penggunaan obat golongan GLP-1 yang populer untuk diabetes dan penurunan berat badan diduga memiliki kaitan dengan peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan tulang dan sendi. Temuan ini dipaparkan dalam pertemuan tahunan American Academy of Orthopaedic Surgeons.
Penelitian tersebut menganalisis hampir 150.000 orang yang menggunakan obat GLP-1 selama beberapa tahun. Di antara obat yang diteliti terdapat Ozempic dan Wegovy yang banyak digunakan untuk terapi obesitas.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Penelitian tersebut juga masih belum melalui proses peer review sehingga perlu kajian lanjutan.
Berawal dari Pengamatan Dokter
Penelitian ini bermula dari pengamatan dokter ortopedi John G. Horneff yang melihat beberapa pasien pengguna GLP-1 mengalami cedera tendon meski hanya mengalami trauma ringan. Temuan tersebut memunculkan pertanyaan apakah perubahan komposisi tubuh akibat terapi GLP-1 bisa memengaruhi jaringan ikat dan kesehatan tulang.
Bersama peneliti lain termasuk mahasiswa kedokteran Muaaz Wajahath, tim kemudian menganalisis data rekam medis dari berbagai institusi kesehatan.
Sebanyak 73.483 pasien yang menggunakan obat GLP-1 dibandingkan dengan jumlah yang sama dari kelompok yang tidak menggunakan obat tersebut. Mereka dipantau selama lima tahun sejak terapi dimulai.
Beberapa obat yang dianalisis antara lain Victoza, Trulicity, dan Byetta.
Risiko yang Ditemukan
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan angka diagnosis antara pengguna dan non-pengguna GLP-1 setelah mempertimbangkan faktor usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, kadar gula darah, hingga kebiasaan merokok.
Dalam periode lima tahun penelitian ditemukan bahwa:
- Sekitar 4,1 persen pengguna GLP-1 didiagnosis mengalami Osteoporosis, lebih tinggi dibanding 3,2 persen pada kelompok non-pengguna.
- Sekitar 7,2 persen pengguna GLP-1 mengalami Gout, dibandingkan 6,6 persen pada kelompok pembanding.
- Sekitar 0,2 persen pengguna GLP-1 mengalami Osteomalacia, sementara pada kelompok non-pengguna hanya 0,1 persen.
Menurut ahli endokrinologi Andres Splenser, hasil penelitian ini menambah diskusi ilmiah mengenai pengaruh obat GLP-1 terhadap kesehatan tulang. Studi sebelumnya menunjukkan hasil yang beragam, mulai dari perubahan kecil pada metabolisme tulang hingga tidak adanya dampak signifikan.
Kemungkinan Penyebab
Para pakar menduga beberapa faktor bisa menjelaskan temuan tersebut. Salah satunya adalah penurunan berat badan yang sangat cepat.
Ahli bedah bariatrik Kyle J. Thompson menjelaskan bahwa berat badan sebenarnya dapat merangsang pembentukan tulang. Jika berat badan turun terlalu cepat, tubuh mungkin memecah jaringan tulang lebih cepat dibandingkan proses pembentukannya.
Selain itu, penurunan lemak tubuh juga dapat meningkatkan kadar asam urat sementara di dalam darah sehingga berpotensi memicu serangan gout. Dehidrasi akibat efek samping gastrointestinal obat juga dapat memperburuk kondisi tersebut.
Faktor lain yang mungkin berperan adalah pola makan yang lebih sedikit selama terapi GLP-1 sehingga asupan nutrisi penting bagi tulang, seperti kalsium, protein, dan vitamin D, menjadi kurang.
Tidak Perlu Terlalu Khawatir
Meski ada indikasi peningkatan risiko, para ahli menilai manfaat obat GLP-1 bagi kesehatan metabolik dan jantung tetap lebih besar bagi sebagian besar pasien.
Endokrinolog Sonia Gibson menyebutkan bahwa risiko yang ditemukan dalam penelitian ini relatif kecil dan tidak serta-merta menjadi alasan untuk menghentikan terapi.
Namun, para ahli menyarankan pengguna GLP-1 untuk tetap berada di bawah pengawasan dokter, menjaga asupan nutrisi yang cukup, serta melakukan latihan kekuatan agar kesehatan tulang tetap terjaga selama proses penurunan berat badan. (ian)
Sumber: Health.com



Tinggalkan Balasan